Monday, February 27, 2006

Dengarkanlah dengan Mata, Telinga dan Hati

Hari ini Mama pergi menghadiri hari presentasi siswa-siswi di sekolah si Sulung. Melihat tak begitu banyak orang tua hadir di lingkungan sekolah, sepertinya, hari ini adalah giliran anak kelas satu. Mama pikir terlambat, tapi ternyata tidak. Ketika Mama masuk ke dalam kelas, Natsuko-chan yang bertugas sebagai pembuka acara hari itu, baru akan mulai memberikan penjelasan kepada seluruh hadirin sekelas tentang acara presentasi tersebut.

Saya-chan selanjutnya menjadi master of ceremony, dengan cara memanggil satu demi satu temannya, untuk mempresentasikan kebolehan masing-masing. Saya-chan melihat urutan nama yang ditempel besar-besar --beserta foto-- di dinding bagian belakang, yang di situ duduk/berdiri merapat para orang tua murid. Yang unik, foto itu disusun berdasarkan urutan tanggal kelahiran. Jadi, yang tua lebih dulu, yang muda belakangan. Mama pikir, ini adalah bentuk pengamalan sebuah prinsip yang ada dalam Islam, yaitu mendahulukan yang tua baru kemudian yang muda.

Terkait dengan tua-muda ini, Mama jadi ingat pesan beberapa orang tua Jepang, yang sudah berusia cukup lanjut. Mereka memesankan, agar menerapkan prinsip urutan di dalam rumah. Yang paling harus dihormati dan didengar adalah Ayah, lalu Ibu, lalu anak tertua, lalu anak tengah, lalu anak bungsu. Kita mungkin ada sedikit protes soal pendapat ini. Bahwa keteladanan, kebenaran, kesalahan, semuanya relatif tak selalu terkait pada usia. Bapak bisa salah, anak bisa benar. Yang bungsu bisa lebih dewasa, yang tua bisa sangat manja. Namun, masalahnya menurut Mama bukan itu yang dimaksudkan. Tapi nuansa penghormatannya. Bukan soal mendengarkan pendapat atau membela yang benar dan salah. Tapi soal-soal teknis seperti mendahulukan memberikan makanan dan minuman pada Ayah daripada anak-anak, mendahulukan menjawab panggilan yang tua dari yang muda. Soal kebisaan, benar-salah, kemampuan, memang relatif. Seperti Rasulullah dulu pernah menunjuk seorang sahabat yang muda untuk memimpin sahabat-sahabat yang jauh lebih senior.

Kembali ke acara di kelas. Mama terharu sekali melihat semua anak diizinkan menunjukkan kebolehannya masing-masing. Tak ada nilai mampu di bidang ini maka itu lebih mulia, lebih bergengsi, daripada mereka yang mampu di bidang lain. Coba renungkan beberapa kemampuan yang saya ingat dipresentasikan masing-masing anak :

Anak1 : Dia adalah anak yang sehat, sepanjang masa sekolah tak sekalipun dia tidak datang ke sekolah. Dia tak pernah sakit. Tak pernah perlu minta izin libur.

Anak2 : Dia adalah anak yang sudah bisa membaca dengan baik (meskipun Mama lihat dia agak terbata-bata, namun seluruh hadirin tetap memberikan tepuk tangan).

Anak3 : Dia adalah anak yang sekalipun tak pernah lupa sesuatu. Katanya, begitu pulang sekolah dia sudah langsung mempersiapkan segala perlengakapan sekolah untuk keesokan harinya, dan pagi besoknya sebelum berangkat, dia periksa sekali lagi semuanya.

Anak4 : Dia adalah anak yang bisa main lompat tali. Meskipun Mama lihat dia hanya bisa lompat tali biasa tanpa modifikasi apapun.

Anak5 : Dia bisa memberikan aba-aba mulai belajar di kelasnya, seperti : Berdiri!, Ucapakan Salam! Duduk! (Mama tahu, anak ini di bawah rata-rata dalam hal kemampuan bahasa, menghitung dan membaca)

Anak6 : Dia tak pernah terkena bola dalam permainan lempar-lemparan bola. Lucu sekali, ketika presentasi, seorang temannya berusaha melemparnya tapi dia selalu bisa mengelak.

Anak7 : Dia selalu mendapat nilai 100 untuk setiap pelajaran kanji. Dia membawa buku latihan kanjinya, dan membuka halaman demi halaman, menunjukkan pada seluruh hadirin nilai demi nilainya.

Betapa mengharukannya, ketika kemampuan setiap orang mendapat pengakuan yang layak.

Dan ada kata-kata anak-anak yang sering diulang-ulang setiap kali mau presentasi, "Dengarkanlah dengan mata, telinga, dan hati."

Pada presentasi kemampuan membaca buku, anak yang presentasi itu berpesan, "Bila temanmu salah dalam membaca, janganlah ditertawakan."

Betapa dalam pelajaran akhlak yang diajarkan itu. Dan Mama sungguh merasa beruntung anak Mama tumbuh dan belajar di usia yang sangat penting dalam hal pembentukan jiwa, mental dan akal setiap manusia, di lingkungan seperti itu.

Mama bertanya-tanya, apakah di Indonesia juga seperti itu?

Saturday, February 25, 2006

Mati Lampu

Orang Tua

Sabtu. Setelah kemarin salju tidak jadi turun digantikan hujan, pagi ini sinar matahari menyentuh bumi bagian tempat tinggal kita dengan tanpa halangan. Dari balik jendela kulihat langit bersih, tak ada setitik pun awan di sana. Hari ini tentu hangat. Tanpa harus kehilangan romantisme musim dingin. Rasanya sia-sia sekali suasana menyenangkan ini kita lewatkan tanpa berjalan-jalan bersama-sama.

(ah, tulisan ini sekian dulu, Si Bungsu sudah tak sabar melihat Mama serius mengetik. Apa kabarmu di sana, adakah tirai-tirai yang menutup pandangan telah tersingkap, membangun kesadaran dan kekuatan keinginan yang baru? Semoga.)

Wednesday, February 22, 2006

Terus Mengaktifkan Anak-Anak


Kalau saja kita bisa selalu tetap sadar akan urut-urutan terbaik aktifitas anak-anak, melakukan urut-urutan persiapan juga dengan matang, penuh kesungguhan, maka mungkin itu akan meminimalkan kesemrawutan mengisi waktu bersama, mengurangi peluang-peluang munculnya emosi yang tidak pada tempatnya, dan juga menekan perilaku negatif anak-anak itu sendiri.

Tuesday, February 21, 2006

Tugas Penting Lain Orang Tua


* "...my parents nevert taught me how to handle my anger." Satu sisi lagi tentang tugas kita sebagai orang tua. Dan untuk itu, "Children learn what they live".

Wednesday, February 15, 2006

Mottainai Obaasan

Itu adalah cerita tradisional Jepang tentang seorang nenek (obaasan) yang selalu berkomentar, "mottainai" (sia-sia). Salah satu bagiannya adalah nasehat sang nenek pada cucunya agar kalau mau sikat gigi, tampung dulu airnya di gelas, jangan biarkan mengalir terus dari keran. Agar airnya tidak mottainai. Sang Nenek juga berkata "mottainai" saat melihat di piring cucunya ada beberapa butir nasi tersisa. Juga mengatakan kata ajaibnya itu, waktu kulit jeruk mau dibuang. Katanya, kulit itu bagus dimasukkan ke dalam kolam mandi (ofuro), wanginya menyegarkan (jadi ingat spa/aromaterapi). Terakhir, ketika cucunya mau membuang pensil-pensil warnanya yang sudah pendek-pendek. Sang nenek mengambilnya, megikatnya jadi satu dengan isolasi, dan menjadi pensil warna-warni pelangi.

Televisi pemerintah Jepang, banyak sekali berisi pendidikan moral seperti ini. Tanpa dijedai iklan yang menyesatkan dan membodohkan.

Jangan pikirkan sesuatu yang jauh dan di luar jangkauan : sikap pemerintah negara kita. Tapi mari pikirkan bagaimana kita mendidik anak-anak kita sendiri.

Monday, February 13, 2006

Will anyone notice?

Barusan nonton collateral. Satu pelajaran penting : seorang anak yang merasa tidak diakui/diperhatikan/dianggap oleh orang tuanya, erm... potensial untuk jadi orang yang tidak pedulian.